Bahasa Indonesia harus tetap diutamakan sebagai penuturan dalam
kehidupan sehari-hari dan upaya itu dilakukan agar bahasa Indonesia dapat
dikenal masyarakat dunia seperti bahasa Inggris, terutama dalam era
globalisasi.
Kepala Sub Bidang Pembakuan dan Kodifikasi Pusat Bahasa, Dr Fairul
Zabadi di Medan, Rabu, mengatakan, warga Indonesia harus bangga berkomunikasi
menggunakan bahasa nasionalnya, karena dalam era globalisasi perlu
mempromosikan bahasa Indonesia secara mendunia.
Bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa dan sastra yang
"berbicara" di dunia jika masyarakat Indonesia mampu hadir sebagai
salah satu "suku global" (global-tribe) di dunia.
Untuk menjadikan bahasa Indonesia dikenal sebagai bagian dari
global-tribe, maka masyarakat Indonesia harus mengedepankan bahasa itu dalam
keseharian.
Fairul menilai, banyak masyarakat yang mulai menggunakan tutur
bahasa asing dalam keseharian dan meninggalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa
"gaul" mereka, hal itu disebabkan faktor globalisasi yang membuat
sebuah "image" bahwa bahasa asing patut digunakan.
Padahal, bahasa Indonesia harus diposisikan sejajar dengan bahasa
asing, karena bahasa Indonesia sama baiknya dengan bahasa asing, bahkan bahasa
Indonesia telah lama siap menghadapi era globalisasi.
Perubahan situasi tindak tutur itu tentu berpengaruh terhadap
perkembangan kosakata bahasa Indonesia yang sebagian besar berasal dari bahasa
daerah dan asing.
Bahasa Indonesia melalui kosakata dan istilahnya dewasa ini
disinyalir banyak mengalami "gangguan" jika dilihat dari fungsi dan
kedudukannya sebagai bahasa Nasional.
Hal itu terlihat, dengan mudahnya menemukan kata dan istilah asing
yang pada hakikatnya masih dapat diisi dengan kosakata dan istilah bahasa
Indonesia.
Seperti pada ranah informatika, masyarakat kini begitu akrab
dengan istilah "home page, download, online dan e-mail", padahal
istilah dalam bahasa Indonesia laman untuk home page, unduh ( download), daring
(online) dan pos-el (e-mail).
Masyarakat diharapkan bersama-sama mempromosikan istilah-istilah
tersebut agar akrab di telinga masyarakat Indonesia bahkan dunia.
Kepala Balai Bahasa Medan, Prof Dr Amrin Saragih, MA menambahkan,
bila hal itu dibiarkan, lambat laun bahasa Indonesia tentu akan tergerogoti dan
tercabut dari akar budayanya.
"Kita tidak ingin imperialisme ekonomi (asing) yang sudah
mempropagandakan perekonomian kita, juga menular menjadi imperialisme bahasa
asing yang akan merusak bahasa kita," katanya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Daftar Pustaka :
Jodhi, Yudono. " Bahasa Indonesia Harus Mendunia". Medan.Kompas.com,02-Oktober-2009, 01:57 WIB.

]
